Nilai Kehidupan
Oleh : Wahyu Fahmi Pribadi
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan
rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya.
Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya
dengan baik.
Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya.
Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari
bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk
menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak
memiliki arti.
“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati,
lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya
seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.
Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba
menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung
diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap
pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur
siapapun yang berada di sekitar sini.”
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih
pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar
suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon
yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika
kamu mau bunuh diri, silahkan pindah ke tempat lain.
Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi
tidak dapat menikmati hasilnya.”
Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan
mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda,
karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk
sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di
sini.”
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan
berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka
menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang
untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.
Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia, masih muda, kuat,
dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang,
aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula
bermanfaat bagi makhluk lain”.
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan
perasaan lega.
Kalau kita mengisi
kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani
hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan
memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau
kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan,
tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita,
setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang
diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.